Ditengah cuaca dan iklim yang tidak menentu ini. Terjadinya kebakaran hutan dan lahan di wilayah Indoneisa yang dilakukan oleh oknu orang yang tidak bertanggung jawab, membuat kerusakan yang luar biasa. Banyak plasma nutfah, fauna dan flora yang mati terbakar.
Kecerdasan ekologi (ecological intelligence) kini menjadi keterampilan krusial yang harus dimiliki setiap individu untuk menghadapi krisis lingkungan global. Guna mendalami konsep ini, sebuah kegiatan Juguran Budaya Peken Prapen Minggu Paing dengan tema "Kecerdasan Ekologi" telah sukses diselenggarakan. Juguran ini mempertemukan para pejabat, akademisi, aktivis lingkungan, dan generasi muda untuk membedah cara manusia memahami dampak aktivitas mereka terhadap ekosistem.
Acara ini dibuka oleh tuan rumah Prapen, Pak Kasito. Beliau menyampaikan bahwa manusia dan lingkungan saling terkait. Kotoran ayampun yang kita pelihara itu merupkan unsur yang penting untuk sumber makanan tanaman. Jadi janganlah kita jijik, dengan hal tersebut. Padahal tanaman yang kita makanpun, berasal dari tanaman yang subur karena mendapatkan pupuk alami dari kotoran ayam. Selanjutnya doa bersama yang dipandu oleh tokoh agama setempat.
Setelah itu Mr. Joni Jhonte menampilkan Wayang Cengkewengnya. Dengan Wayang Cengkewengnya Mr Jonte menyampaikan bahwa menurut Mbah Daniel Goleman, kecerdasan ekologi meliputi :
1. Sebuah pemahaman lingkungan sekitar, contohnya ada puntung rokok yang merupakan sampah dibuang ditempat sampah. Paham adanya piring kotor tapi dibiarkan.
2. Merasakan atau empat, kasihan ini kalau lingkungan kotor.
3. Melakukan kebersihan/ tindakan. Membersihkan lingkungan yang kotor.
Dalam pembukaan diskusi, ditekankan bahwa kecerdasan ekologi bukan sekadar pengetahuan tentang alam. Konsep ini adalah kemampuan manusia untuk menerapkan pemahaman tentang ekosistem guna menyelaraskan aktivitas sehari-hari dengan kelestarian alam. Menjadi cerdas secara ekologis berarti mampu melihat keterkaitan antara apa yang kita konsumsi, beli, dan buang terhadap kesehatan planet ini.
Seperti yang disampaikan oleh Pak Titut, beliau menyatakan bahwa dulu nenek moyang ketika memelihara ayam. Ayamnya bertelur 10 butir itu tidak semuanya dimasak. Tetapi yang dimasak hanya 4 butir kemudian yang 6 diteteaskan, dalam rangka menjaga keberlangsungan (sustinabilty). Kotoran ayamnya dapat dijadikan pupuk.
Selanjutnya Om Barno menyampaikan pengalamannya tinggal di Pati yang lingkungannya panas, beda dengan Banyumas. Lalu Pak Endar beliau menyampaikan tentang pertanian yang berkelanjutan, pertanian organik, lalu ada Mas Istanto yang concern pada pariwisata alam, dimana yang merusak alam hutan ya mereka para pecinta alam karena membawa sampah tapi membuang sampah di hutan tidak dibawa lagi dibuang di tempat sampah.
Dari alam, lingkunganpun kita dapat mengambil pelajaran bahwa untuk hidup jangan seperti tanaman pisang. Kenapa ?. tanaman pisang anakannya/tunasnya tidak akan besar kalu tidak di pisah. Mungkin hampir sama dianalogikan dengan manusia bahwa manusia adakalnya harus merantau, jauh dengan orang tua agar mandiri dan berdaya.
Juguran yang berlangsung dinamis ini, dalam langkah kongkritnya tidak bisa dilakukan sendirian. Kecerdasan ekologi harus diintegrasikan dengan berbagai lintas sektor formal dan ruang dialog komunitas guna menciptakan kebijakan yang pro-lingkungan.
Seluruh peserta juguran sepakat bahwa kecerdasan ekologi harus mewujud dalam tindakan nyata, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mengelola sampah dari rumah, dan mendukung bisnis lokal yang ramah lingkungan. Masa depan bumi tidak ditentukan oleh besarnya teori yang kita kuasai, melainkan oleh konsistensi aksi kecil yang kita lakukan setiap hari. (JBBP)
.png)




.png)


.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
