Di Pekan Prapen ke-4 Minggu pahingan, 25 Januari 2026
Oleh: Andika Satria
Idiom 11 12 memiliki makna implisit yang sering digunakan untuk membandingkan dua entitas, situasi, atau manusia yang kualitas atau karakternya setara. Terkadang mengimplikasikan salah satu sedikit di bawah yang lain.
Kata "sebelas" terdengar mirip dengan kata "sebelah". Saat dua orang atau dua hal yang mirip disandingkan, berdampingan atau "sebelahan". Belum lagi tentang "kesebelasan", orang jadi menyadari kemiripannya. Lantaran angka setelah sebelas adalah dua belas, maka istilah "sebelas dua belas" pun lahir sebagai ungkapan untuk menyatakan kemiripan tersebut.
Sedangkan antara pukul 11 siang dan 12 siang, posisi matahari dan panasnya hampir sama. Saking miripnya, orang-orang dahulu sulit membedakan kondisi di waktu tersebut. Maka istilah "sebelas dua belas" dipakai untuk menggambarkan dua hal yang mirip, layaknya jam 11 dan 12 siang.
Dalam matematika angka 12 dianggap istimewa. Ia termasuk sublime number dan superior highly composite number karena memiliki banyak pembagi, yakni 1, 2, 3, 4, 6, dan 12. Angka 12 sering dianggap melambangkan kesempurnaan. Sedangkan 11 adalah angka yang paling dekat dengan 12. Maka ketika dua hal mirip, tapi yang satu sedikit di bawah yang lain, orang menyebutnya "sebelas dua belas".
Disadari atau tidak, angka 12 kerap ditemukan di kehidupan sehari-hari. Mulai dari 12 bulan dalam setahun, 12 jam di jam dinding, 12 zodiak, hingga 1 lusin yang berjumlah 12 buah. Barangkali angka 12 merupakan numerik yang menyatakan kelengkapan suatu jumlah. Namun yang pasti, ungkapan ini telah menjadi bagian dari budaya lisan masyarakat Indonesia, untuk menggambarkan dua hal yang beda-beda tipis.
Tarian Jiwa Medi PS yang mengambil tema 11 12, mengingatkan alamiah manusia perihal memilih untuk berkelompok dengan sesamanya, atas dasar kesamaan, kesetaraan, dan sesuatu yang beririsan. Bukan cuma perihal watak, pemikiran, ide, dan kepentingan baik lainnya. Tetapi ada suatu frekuensi yang berkelindan.
Medi PS menjadi "wayang" yang bermandikan cat akrilik dan menari di atas kanvas. Tercermin bahwa manusia berlumuran dosa, pahala, derita, bahagia, salah, benar, dan berbagai macamnya yang mewarnai kanvas hidupnya, namun jiwanya selalu "menari" selaras dengan semesta-Nya. Suatu meditasi aktif dan mendalam: pengalaman rohani yang indah. Tarian Jiwa yang memelihara resonansi dengan cahaya yang tinggi. Sesuatu yang tidak hanya dipandang dengan mata lahir saja.
Energi itu memancar dari kerumunan kecil di beranda Prapen, Karangnangka, menuju ke langit. Kerumunan kecil yang "terasingkan" dari budaya kotor yang riuh. Beruntunglah "keterasingan" itu adalah sebuah kesunyian yang sejati untuk ruang bersama mengolah kebudayaan murni manusia. Kebudayaan yang memiliki harapan dan potensi untuk membenahi keruhnya peradaban palsu belakangan ini.
Melalui Tarian Jiwa, dan bahkan mungkin di kantong-kantong kebudayaan "terasingkan" lainnya, manusia perlu menjadi angka 11 yang berasal dari manusia yang berbeda tipis dengan angka 12 yang berasal dari zat-Nya. Dan bisa dikatakan, 11 12 adalah dialektika kemesraan manusia dan Tuhan satu kesatuan yang sempurna. Jika manusia sudah mengemasi 11 12-Nya itu di dalam jagat pikiran dan batinnya, ia sudah melengkapi bekalnya yang sejati.
Dengan begitu, manusia bisa terus merawat telatah dan momentum ketuhanan bagi keselamatan semua makhluk menuju jalan pulang. Hidup berjalan dengan enteng berkat ketulusan, kemurnian, cinta kasih, dan sesuatu yang luhur. Dan perlu diingat selalu, bahwa manusia hanya diperjalankan, bukan berjalan sendiri. Panjang umur hal-hal baik!.
Kopi Prapen Indonesia
Kopi Lokal Khas banyumas
Kearifan Lokal Tradisi Leluhur